Di tengah-tengah hiruk pikuk perselisihan sengit antara Komisi Pemberantasan Korupsi, dan Kepolisian dan juga ramainya keterlibatan beberapa nama dari Kejaksaan Agung yang secara bergantian melakukan Dengar Pendapat dengan Dewan Perwakilan Rakyat Komisi III DPR yang hari ini 9 November 2009 sedang berlangsung Dengar Pendapat dengan antara DPR Komisi III dan Kejaksaan Agung. Sementara para pendukung Bibit-Chandra yang mendapat dukungan dari berbagai lapisan masyarakat terus menggema di berbagai pelosok. Sedangkan Facebook yang melakukan dukungan terhadap keberadaan KPK sudah mencapai lebih dari sejuta tepatnya sampai jam 21.30 menurut Harian Kompas yang terbit hari ini telah mencapai 1.119.266 dukungan. Tapi ditengah-tengah gonjang-ganjing persoalan tersebut jangan lupa bahwa besok pagi kita semua diundang untuk sejenak mengenang para pahlawan kita yang waktu mereka berjuang tanpa pernah memikirkan gelontoran uang miliyaran rupiah. Tapi mereka melakukan perjuangan dengan tulus ikhlas mempertahankan negeri tercinta ini Indonesia Merdeka! Sumpah para pahlawan itu bukan untuk mempertahankan kebenaran diri, tapi mereka bersumpah untuk kemerdekaan bangsa kita dari para penjajah.
Nah, dalam rangka memperingati hari Pahlawan itulah beberapa waktu lalu saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke Monumen Tugu Pahlawan dan Musium Sepuluh Nopember Surabaya untuk melihat dari dekat sejarah bagaimana para pahlawan kita telah mempertaruhkan nyawanya untuk kemerdekaan negara kita dari para penjajah. Mengunjungi Monumen tersebut benar-benar melupakan semua hiruk-pikuk gonjang-ganjing hukum yang tidak jelas mau dibawa kemana oleh sebagian pelaku hukum kita itu. Sebaliknya merasa bahwa, para pahlawan kita itu begitu gigihnya melawan para perongrong kemerdekaan sampai rela mempertaruhkan nyawa dan raganya.
Dalam kesempatan tersebut saya membeli sebuah Buku Panduan mengenai Monumen Tugu Pahlawan tersebut serta Museum Sepuluh Nopember Surabaya. Keberadaan Tugu Pahlawan yang megah yang berada di tengah-tengah Kota Surabaya itu berada di Jl. Pahlawan Surabaya itu juga dilengkapi dengan keberadaan Musium sebagai sarana untuk mempelajari rangkaian peristiwa pertempuran 10 Nopember 1945 di Surabaya.
Bangunan museum terdiri dari 2 lantai yaitu lantai 1 digunakan untuk pameran 10 gugus patung yang melambangkan semangat juang arek-arek Suroboyo dan sosiodrama pidato Bung Tomo serta pemutaran film pertempuran 10 Nopember 1945. Kemudian lantai 2 digunakan sebagai ruang pamerr senjata, reproduksi, foto-foto dokumenter, dan pameran koleksi peninggalan Bung Tomo.
Jadi, bagi Anda yang ingin melupakan carut-marutnya hukum di negeri ini yang ditandai dengan berbagai persoalan yang muncul, maka silahkan Anda datang ke Tugu Pahlawan dan masuk ke Musium 10 Nopember tersebut. Dan belilah Buku Panduan ini yang dijual di musium tersebut.
Buku Panduan: MONUMEN TUGU PAHLAWAN DAN MUSEUM 10 NOVEMBER
Diposkan oleh WD Nur 11/09/2009 06:58:00 PM 0 komentar Link ke posting ini
Berperang Demi Tuhan!
Perburuan terhadap para teroris di Indonesia terus dilakukan seperti yang terjadi Kamis dini hari (17/11/09) di media massa yang ramai memberitakan perburuan terhadap para teroris tersebut. Sementara sekalipun beberapa orang telah meninggal termasuk berita meninggalnya gembong teroris yang dicari-cari selama ini yaitu Nordin M Top, namun masih saja terorisme itu telah meninggalkan jejak kengerian dan air mata. Tapi menurut beberapa orang, mereka yang sudah terkena sihir terorisme tersebut khususnya di Indonesia merupakan imbas dari semangat berperang demi Tuhan. Bahkan seakan ingin membenarkan hal tersebut, Indonesia telah dijadikan medan perang di tengah-tengah negeri yang aman melalui teror-teror yang mengerikan yang terjadi di beberapa tempat seperti di Bali, dan di Jakarta serta tempat-tempat lain di Indonesia ini.
Semangat berperang demi Tuhan ini dengan gamblang dan teratur diungkapkan oleh seorang penulis terkenal dan melahirkan buku-buku berbobot yaitu Karen Armstrong yang salah satunya sedang diangkat ini dengan judul Berperang Demi Tuhan: Fundamentalisme dalam Islam, Kristen dan Yahudi. Tentu saja apa yang diungkap dalam kata pembuka artikel ini sebagai contoh bagaimana pemahaman agama telah melahirkan kengerian.
Walaupun sebenarnya bukan hanya dalam Islam semangat perang itu ditunjukkan oleh sebagian penganutnya, tapi juga di agama-agam lainnya Karen Armstrong menunjukkan betapa dari agama-agama besar muncul paham fundamentalisme sebagai cara baru orang beragama. Dalam buku ini Karen yang pernah menjalani kehidupan biarawati selama tujuh tahun itu melakukan pendekatan yang lebih simpatik, bukan hanya fundamentalisme dilihat sebagai salah benar, tapi melihat apa yang melatarbelakangi munculnya orang beragama model baru tersebut.
Ketika nilai-nilai muncul yang dianggap mengancam dan bahkan berusaha untuk memusnahkan agama, makin subur maka di situlah muncul apa yang disebut dengan fundamentalisme. Tentu tulisan ini tidak dalam karena tujuannya adalah bagaimana buku ini bisa dicari dinikmati dan diambil manfaatnya! Sebenarnya banyak karya-karya dari Karen, dan 3 karya di bawah ini juga cukup bagus untuk dibaca:
1. ISLAM, A SHORT HISTORY
2. MUHAMMAD, SANG NABI
3. Holy War - The Crusades and Their Impact on Today's World
Diposkan oleh WD Nur 9/18/2009 11:19:00 AM 1 komentar Link ke posting ini

